Kesalahan Umum Saat Mengurus Izin BPOM dan Cara Menghindarinya
Mengurus izin BPOM merupakan tahapan penting bagi pelaku usaha yang ingin memasarkan produk secara legal dan berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pelaku usaha yang mengalami kendala, penolakan, atau proses yang berlarut-larut karena melakukan kesalahan sejak tahap awal pengurusan. Kesalahan ini sering kali terjadi bukan karena kelalaian besar, melainkan kurangnya pemahaman terhadap prosedur dan persyaratan teknis yang ditetapkan BPOM.
Bagi UMKM, startup, maupun perusahaan yang baru pertama kali mengurus izin BPOM, proses ini bisa terasa rumit dan membingungkan. Mulai dari kesalahan dokumen, klasifikasi produk yang kurang tepat, hingga ketidaksesuaian label, semuanya dapat berdampak pada lamanya proses perizinan. Oleh karena itu, memahami kesalahan umum saat mengurus izin BPOM sekaligus cara menghindarinya menjadi langkah penting agar pengajuan berjalan lebih lancar.
1. Kesalahan dalam Menentukan Jenis Izin BPOM
Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah keliru menentukan jenis izin BPOM yang harus diajukan. Banyak pelaku usaha belum memahami perbedaan antara BPOM MD dan BPOM ML, sehingga salah memilih jalur pendaftaran.
Kesalahan ini biasanya terjadi karena:
- Tidak memahami asal produk (produksi lokal atau impor)
- Mengira semua produk bisa didaftarkan dengan satu jenis izin
- Tidak mempertimbangkan sistem maklon atau private label
Cara menghindarinya adalah dengan memastikan sejak awal asal produk, lokasi produksi, serta pihak yang bertanggung jawab atas produk tersebut. Dengan klasifikasi izin yang tepat, risiko penolakan atau revisi dari BPOM dapat ditekan secara signifikan.
2. Dokumen Tidak Lengkap atau Tidak Sesuai Ketentuan
Kesalahan berikutnya yang sering memperlambat proses adalah dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai format yang diminta BPOM. Meskipun terlihat sepele, ketidaksesuaian dokumen menjadi salah satu alasan utama pengajuan izin harus direvisi berulang kali.
Beberapa contoh kesalahan dokumen yang umum terjadi antara lain:
- Data perusahaan tidak sinkron dengan sistem OSS
- Sertifikat pendukung sudah kedaluwarsa
- Dokumen teknis produk tidak sesuai kategori
- Informasi komposisi tidak konsisten antar dokumen
Untuk menghindari kesalahan ini, pelaku usaha perlu memastikan seluruh dokumen telah diperiksa secara menyeluruh sebelum diajukan. Penyusunan dokumen sebaiknya dilakukan secara sistematis dan mengacu langsung pada ketentuan BPOM yang berlaku.
3. Kesalahan pada Label dan Informasi Produk
Label produk merupakan salah satu aspek yang mendapat perhatian besar dari BPOM. Banyak pengajuan izin tertunda karena label produk tidak memenuhi standar, meskipun produknya sendiri sudah memenuhi syarat keamanan.
Kesalahan label yang sering terjadi meliputi:
- Informasi komposisi tidak lengkap atau tidak berurutan
- Klaim produk yang tidak dapat dibuktikan
- Penggunaan istilah yang dilarang atau menyesatkan
- Penulisan informasi gizi yang tidak sesuai format
Cara menghindarinya adalah dengan memastikan label produk disusun sesuai regulasi BPOM sejak awal. Label bukan hanya elemen visual, tetapi juga dokumen hukum yang mencerminkan keamanan dan kejelasan informasi bagi konsumen.
4. Kurangnya Pemahaman terhadap Alur dan Proses BPOM
Banyak pelaku usaha mengira bahwa pengurusan izin BPOM hanya sebatas mengunggah dokumen dan menunggu persetujuan. Padahal, proses BPOM terdiri dari beberapa tahapan evaluasi yang saling berkaitan.
Kesalahan yang sering muncul akibat kurangnya pemahaman alur antara lain:
- Tidak siap saat diminta klarifikasi tambahan
- Terlambat merespons permintaan revisi
- Tidak memahami batas waktu setiap tahapan
- Mengabaikan komunikasi resmi dari sistem BPOM
Untuk menghindari kendala ini, pelaku usaha perlu memahami alur pengurusan izin BPOM secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya evaluasi lanjutan atau permintaan perbaikan dokumen.
5. Mengurus Izin BPOM Tanpa Pendampingan yang Tepat
Mengurus izin BPOM secara mandiri memang memungkinkan, namun tidak selalu menjadi pilihan paling efisien, terutama bagi pelaku usaha yang belum familiar dengan regulasi. Kesalahan kecil yang terjadi di awal dapat berakibat pada proses yang jauh lebih panjang dan melelahkan.
Pendampingan profesional dapat membantu pelaku usaha:
- Menghindari kesalahan administratif sejak awal
- Memastikan dokumen dan label sesuai standar
- Mempercepat proses evaluasi BPOM
- Mengurangi risiko penolakan atau revisi berulang
Banyak pelaku usaha memilih bekerja sama dengan KORSIA Group sebagai pendamping pengurusan izin BPOM. Dengan pengalaman dan pemahaman regulasi yang memadai, proses perizinan dapat berjalan lebih terarah dan efisien, tanpa mengganggu fokus utama pelaku usaha dalam mengembangkan produk dan bisnis.
Kesimpulan
Kesalahan umum saat mengurus izin BPOM sering kali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap jenis izin, kelengkapan dokumen, standar label, serta alur proses yang berlaku. Meskipun terlihat teknis, kesalahan-kesalahan ini dapat berdampak besar pada lamanya proses perizinan dan kesiapan produk untuk beredar di pasaran.
Dengan memahami potensi kesalahan sejak awal dan mengetahui cara menghindarinya, pelaku usaha dapat menjalani proses pengurusan izin BPOM dengan lebih tenang dan terencana. Dukungan dari pihak profesional seperti KORSIA Group juga dapat menjadi solusi strategis agar izin BPOM dapat diperoleh dengan lebih efisien, tepat, dan sesuai regulasi yang berlaku.